jason mraz

Sabtu, 06 Desember 2014

Mengenal Asal Usul Rangkasbitung



ASAL USUL RANGKASBITUNG

 
            Rangkasbitung merupakan salah satu kecamatan dari kabupaten Lebak, dan Rangkasbitung juga sebagai ibu kota kabupaten Lebak. Luas wilayah kecamatan ini sekitar 6,795,61 Ha. Tata letak kota Rangkasbitung ini menganut pada sistem kerajaan, dimana alun-alun, mesjid dan pendopo menjadi pusat kota. Di sebelah kecamatan kota Rangkasbitung, berbatasan dengan kabupaten Serang, sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Cimarga, dan sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Maja.
            Di Rangkasbitung terdapat dua sungai yang melintasi kawasan Rangkasbitung, salah satunya adalah sungai terbesar di provinsi Banten, yakni sungai Ciujung dan sungai Ciberang yang berhulu di Kabupaten Bogor. Sungai Ciujung yang sekarang sering kita lihat dengan ukurannya yang begitu lebar ternyata dahulu kala tidak begitu besar hanya kira-kira berukuran 2 meter. Seiring berjalannya waktu, banyak masyarakat yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan pasir di sekitar sungai dan dieksploitasi besar-besaran untuk kepentingan pribadi, sehingga sungai terus melebar dan mengakibatkan banjir.
            Terlepas dari persoalan tentang banjir, ternyata di aliran sungai Ciujung ini, pada dahulu kala sekitar tahun 1970an sungai Ciujung dan sungai Ciberang menjadi lokasi pasar awi atau pasar bambu. Jadi, saat itu banyak sekali warga diluar Rangkasbitung yang menjual bambu melalui sungai dengan hanya bermodalkan rakit. Setelah sampai di jembatan dua Rangkasbitung, para pedagang bambu dan pembeli bambu mulai saling berinteraksi jual beli.
            Menurut sejarah yang ada, nama Rangkasbitung diambil dari kata rangsak yang berarti rusak. Lalu kata bitung diambil dari salah satu jenis bambu. Jadi, Rangkasbitung secara singkatnya adalah bambu rusak. Menurut pendahulu-pendahulu atau kokolot yang ada di kecamatan ini, Rangkasbitung dahulunya adalah hutan semak belukar yang ditengah-tengah hutan tersebut terdapat ladang awi bitung yang tumbuh hampr menyelimuti pandangan. Jadi, sah-sah saja jika kota ini diberi nama Rangkasbitung karena terkenal dengan sungai Ciujungnya.
            Uraian diatas merupakan asal nama kota Rangkasbitung. Dahulu kota ini merupakan salah satu dari sekian banyak kota yang menjadi jajahan kolonial Belanda. Banya sekali peninggalan-peninggalan pada Era colonial Belanda, diantaranya adalah:
  1. Stasiun Kereta Api Rangkasbitung
  2. Vihara Ananda Avalokitesvara
  3. Gereja Bethel
  4. Gereja Kristen Pasundan
  5. Bekas rumah pegawai PJKA
  6. Rumah sakit misi
  7. Gereja Kristen Katolik
  8. SMPN 1 Rangkasbitung
  9. Gedung Djuang Pamitran
  10. Lembaga permasyarakatan (Rutan)
  11. Bekas Rumah Asisten Residen Kabupaten Lebak Eduard Douwes Dekker (Multatuli/Max Havelaar)
  12. Gedung DPRD Kabupaten Lebak
  13. Pendopo di halaman Pemda Kabupaten Lebak
  14. Bekas kediaman Regent sepoeh Raden Tumenggung Adipati Kartanegara yang sekarang menjadi Gedung Dinas Bupati Kabupaten Lebak.
  15. Pendopo di halaman BKD (Badan Kepegawaian Daerah)
  16. Bekas Gedung Pengadilan di Alun-alun Kabupaten Lebak
  17. SD Kejaksaan Rangkasbitung
  18. Rumah Wakapolres Kabupaten Lebak
  19. Menara Air di komplek pemakaman para pahlawan Rangkasbitung
  20. Bekas rumah Mr.Soetadisastra kerabat dari R.T Hardiwinangun Bupati Lebak Ke-8
  21. Rumah Kapolres Kabupaten Lebak
  22. Polsek Kota Rangkasbitung
  23. Bekas Pabrik minyak Van Mixoil PT. Semarang
  24. Bekas kediaman Residen Van Mixoil
  25. Gedung Kodim 0603
Pada saat itu Rangkasbitung perekonomiannya buruk, banyak terjadi korupsi, datanglah seorang warga negara Belanda yaitu Eduard Dowes Dekker alisan Max Havelaar yang ditugaskan menjadi Asisten Residen, kedatangannya bertujuan mengubah perekonomian Rangkasbitung yang sebetulnya Rangkasbitung kaya akan sumber daya alam akan tetapi masyarakat banyak dibodohi, dari petinggi-petingginya memanfaatkan tenaga warga yang telah bekerja namun hidupnya tetap miskin karena dikorupsi petinggi tersebut. Kondisi umum rangkasbitung dan kabupaten Lebak khususnya digambarkan oleh Dowes Dekker dalam novelnya yang berjudul “Max Havelaar”. Memang, Dowes Dekker tidak berhasil mengangkat taraf hidup masyarakat lebih baik. Ia difitnah dan dicampakkan dari jabatannya sebagai asisten residen Lebak. Kendati ia seorang pegawai kolonial, semangatnya untuk melakukan perubahan dan meningkatkan taraf hidup penduduk lebak, menjadi contoh yang patut ditiru.
            Wajar saja, seorang penyair terkenal di Indonesia yaitu WS.Rendra menulis puisi “Doa Pemuda Rangkasbitung Rotterdam”, dan harapan ribuan warga lainnya. Semoga tak ada lagi ketimpangan sosial ekonomi yang mendera, tak ada lagi kemiskinan yang melilit, dan tak ada lagi korupsi yang meraja lela.
            Namun, pada kenyataannya di masa sekarang ini, masih banyak kemiskinan di kota Rangkasbitung. Menurut saya, hal ini dikarenakan rendahnya mutu pendidikan di kota Rangkasbitung ini. Tidak seperti apa yang menjadi julukan kota ini yaitu “Kota Pelajar”, tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat di kota ini yang tidak sekolah.
            Secara logika, pendidikan merupakan hal yang begitu penting untuk meningkatkan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Melihat sejarah rangkasbitung yang buruk akan social dan ekonomi, sehingga dibutuhkan generasi-generasi yang mampu mengubah Rangkasbitung menjadi lebih baik dalam segi ekonomi, social, budaya dan politik. Dimana, pendidikanlah yang menjadi fakor utama dalam membentuk generasi-generasi yang bermutu yang mampu bersaing di era globalisasi ini.
            Sudah sepatutnya pemerintah mempermudah pendidikan di Rangkasbitung ini, agar seluruh masyarakat dapat mearasakan bangku sekolah, karena merekalah yang akan mengubah Rangkasbitung di masa yang akan datang menjadi kota yang tidak tertinggal lagi, namun semuanya harus disempuranakan dengan fasilitas sekolah yang baik sebagai penunjang dalam tercapainya pendidikan yang berhasil. Pada intinya kita harus bangun dari sejarah Rangkasbitung yang terkenal dengan keterbelakangan dan kemiskinannya.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar