jason mraz

Selasa, 16 Desember 2014

tujuan penilaian dan pengajaran

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan identik dengan pengajaran, yang mana pgajaran berkaitan dengan penyerbaran ilmu pengetahuan atau kemahiran tertentu. Sebagai guru, tentu harus memahami apa itu pengajaran karena tugas seorang guru adalah mengajar. Dalam mengajar, guru tidak semata-mata mengajar tanpa sebuah tujuan, maka sudah sepatutya seorang guru harus menentukan tujuan-tujuan terlebih dahulu sebelum mengajar. Sete;ah itu, baru guru dapat menuntukan alat-alat evaluasinya.
Berbicara mengenai pengajaran, tentu berkaitan dengan penilaian. Menurut Akhmat Sudrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
Sama seperti halnya dalam pengajaran, guru terlebih dahulu menentukan tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapainya, begitu juga dengan penilaian, sebelum melakukan penilaian perlu adanya tujuan-tujuan penilainnya. Oleh karena itu, dalam makalah ini, akan dibahas pengertian serta tujuan dari pengajaran dan penilaian, juga kaitannya antar keduanya.

 
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengajaran?
2.      Apa tujuan dari pengajaran?
3.      Apa yang dimaksud dengan penilaian?
4.      Apa tujuan dari penilaian?
5.      Bagaimana kaitan tujuan pengajaran dengan tujuan penilaian?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui maksud dari pengajaran
2.      Mengetahui tujuan pengajaran
3.      Mengetahui maksud dari penilaian
4.      Mnegetahui tujuan penilaian
5.      Mengetahui kaitannya tujuan pengajaran dengan tujuan penilaian



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengajaran
Pengajaran merupakan aktivitas atau proses yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan atau kemahiran yang tertentu. Meliputi perkara-perkara seperti aktivitas perancangan, pengelolaan, penyampaian, bimbingan dan penilaian dengan tujuan menyebarkan ilmu pengetahuan atau kemahiran kepada pelajar-pelajar dengan cara yang berkesan.
Pendidikan identik dengan pengajaran yang membedakan keduanya hanya masalah waktu. Istilah pengajaran lebih dikenal dizaman dulu (pengertian lama). Pengajaran merupakan pembinaan terhadap anak didik yang hanya menyangkut segi kognitif dan psikomotor saja yaitu agar anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berfikir kritis, sistematis, objektif ,dan terampil dalam mengerjakan sesuatu. Tujuan pengajaran lebih mudah ditentukan dari tujuan pendidikan.
Adapun menurut kamus besar bahasa Indonesia (1991) berasal dari kata “ajar”, artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Kata mengajar berarti memberi pelajaran. Contoh : guru itu mengajar murid matematika, sedangkan kata mengajarkan berarti memberikan pelajaran. Contoh : siapa yang mengajarkan matematika kepada murid kelas IV? Berdasarkan arti-arti ini, kemudian kamus besar bahasa Indonesia itu mengartikan pengajaran sebagai proses pembuatan, cara mengajar atau mengajarkan.
Sedangkan istilah pengajaran dalam bahasa inggris disebut instruction atau teaching. Akar kata instruction adalah kata instruct, artinya to direct to do something; to teach to do something; to furnish with information, yakni memberi pengarahan agar melakukan sesuatu, mengajar untuk melakukan sesuatu, memberi informasi. Istilah pengajaran menurut Reber (1998) berarti : pendidikan atau proses perbuatan mengajarkan pengetahuan.
Sementara itu Tardif (1987) memberi arti pengajaran secara terperinci yaitu : A preplanned, goal directed educational process designed to facilitate learning, yaitu pengajaran adalah sebuah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar.

Menurut Jones A. Majid, (2005:16), Pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar.

B.     Tujuan Pengajaran
Dalam persiapan pengajaran hendaknya seorang guru pertama kali menentukan tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajarnya pasti dan ajeg. Kemudian langkah berikutnya adalah menenntukan alat atau cara evaluasi yang nantinya akan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pencapaian tujuan pengajaran yang telah tercapai. Baru setelah menentukan evaluasi setelahnya adalah menentukan pokok-pokok materi dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Terakhir menentukan alat dan media pengajaran untuk memebantu menyampaikan materi ajar dan mempermudah dan memperjelas materi pembelajaran bagi siswa,
Kesimpulan dari uraian diatas bahwasannya proses belajar mengajar yang yang terdiri dari komponen-komponen belajar-mengajar tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain tujuan pengajaran adalh sebuah titik sentral dari seluruh usaha dan upaya belajar mengajar.

Beberapa pertanyaan tentang pengajaran:
Sebelum Kegiatan Pengajaran
Sebelum guru memulai dengan memberikan pelajaran di awal tahun, pertanyaan yang dilontarkan adalah:
1.      “apakah yang akan dicapai oleh siswa, melalui pelajaran saya ini?”
2.      “untuk mengarah ke pencapaian tujuan, apakah siswa sudah mempunyai bekal berupa kemampuan ataupun sebagian dari yang akan dicapai sehingga guru tidak perlu memberikan bahan seluruhnya?”
a.       “bagaiamna kemampuan siswa secara individual dan siapa saja yang sudah menguasai sebagai tujuan, serta seberapa?” (tinjauan individual).
b.      “bagaimana kemampuan kelompok siswa yang diajar secara umum?” (tinjauan kelompok).

Selama Kegiatan Pengajaran
Yang dimaksud dengan “selama kegiatan pengajaran” adalah satu jarak waktu mulai pengajaran berlangsung hingga saat berakhirnya pemberian pengajaran oleh guru. Jarak waktu dapat dilihat dalam satu satuan waktu pendek, yakni satu pertemuan atau satu satuan waktu panjang, seperti satu semester. Selama satu penggalan waktu tersebut guru harus secara terus-menerus mengajukan beberapa pertanyaan.
1.      “apakah yang akan dicapai oleh siswa melalui pelajaran saya ini?” (pertanyaan ini harus selalu diingat agar menjiwai setiap langkah kegiatan).
2.      “apakah langkah yang saya ambil sudah benar, tidak salah langkah? Penilaian terhadap salah-benarnya langkah ini dilihat dari individu siswa secara perseorangan maupun kelompok.”
a.       “apabila saya betul, pencapaian tujuan oleh siswa secara individual maupun kelompok sudah sejauh mana?”
b.      “apabila langkah saya salah, apa sebabnya? Kesalahan ini menyangkut semua orang (kelompok) atau hanya beberapa individu saja?”
Sesudah Kegiatan Pengajaran
Jika guru sudah selesai memberikan pengajaran (satu pertemuan atau satu semester), ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1.      “dengan selesainya pelajaran saya ini, apakah tujuan yang ingin dicapai oleh siswa sudah tercapai?”
a.       “seberapa jauh pencapaian tiap siswa?”
b.      “berapa orangkah yang sudah dapat mencapai?”
2.      “seandainya belum tercapai, bagian dari tujan yang mana sajakah yang belum tercapai itu?” (baik oleh individu maupun kelompok).
3.      “seandainya belum tercapai, faktor-faktor apakah yang menyababkan?”(peghambat bagi individu maupun kelompok).


C.    Pengertian Penilaian
Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.
Menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai.
Menurut Akhmat Sudrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut  secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :
1.      Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
2.      Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
3.      Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

Setiap satuan pendidikan selain melakukan perencanaan dan proses pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 64 ayat :
(1)   dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara  berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
(2)   menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk
a.       menilai pencapaian kompetensi peserta didik;
b.      bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan
c.       memperbaiki proses pembelajaran. Dalam rangka penilaian hasil belajar (rapor)

Pada semester satu penilaian dapat dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti pekerjaan rumah (PR), proyek, pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor semester satu. Pada semester dua penilaian dilakukan melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan kenaikan kelas dan dilengkapi dengan tugas-tugas lain seperti PR, proyek, pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor pada semester dua.
           
            Mengapa harus menilai?
Jika sebelum member jeruk kita tidak memilih dulu nama yang baik dibandingkan dengan yang kurang baik, maka kita akan memperoleh jeruk yang seadanya. Mungkin baik, tetapi ada juga kemungkinan tidak baik, maka kita akan memperoleh jeruk yang berkualitas baik jika tidk didahului dengan kegiatan menilai. Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi.

a.       Makna bagi Siswa
Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oelh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari pekerjaan menilai ini ada dua kemungkinan:

1)      Memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu
2)      Tidak memuaskan
Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, ia akan berusaha lain kali keadaan itu tidak terulang lagi. Namun, ada beberapa siswa yang lemah kemauannya maka ia akan menjadi putus asa.
b.      Makna bagi Guru
1)      Dengan hasil penilaian, guru akan mengetahui siswa mana yang berhasil menguasai materi dan yang kurang menguasai materi, sehingga guru akan lebih memusatkan perhatiannya kepada siswa yang kurang menguasai materi
2)      Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkannya sudah tepat bagi siswa
3)      Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
c.       Makna bagi Sekolah
1)      Apabila guru-guru mengadakan dan diketahui bagaimana hasil belajar siswanya, akan diketahui apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dnegan harapan atau belum.
2)      Informasi dari guru tentang tapat tidaknya kurikulum untuk sekoalh itu dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah dimasa yang akan datang
3)      Informasi hasil penilaian yang diperolah dari tahun ke tahun, dapat digunakan sebagai pendoman bagi sekolah

 
D.    Tujuan atau Fungsi Penilaian
Dengan mengetahui makna penilaian ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dari itu terdapat beberapa tujuan atau fungsi penilaian, yaitu:

a.      Penilaian Berfungsi Selektif
Dengan cara mengadakan penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
1)      Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
2)      Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya.
3)      Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
4)      Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.
b.      Penilaian Berfungsi Diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu, diketahui pula penyebabnya. Jadi, dengan mengadakan penilaian, sebenarnta guru melakukan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebeab-sebab kelamahan ini, akan lebih mudah mencari cara untuk mengatasinya.
c.       Penilaian Berfungsi sebagai Penempatan
Sistem baru yang kini banayk dipopulerkan di Negara barat, adalah sistem belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alas an dari timbulnya sistem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual.
Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan.
Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dspat menentukan dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
d.      Penilaian/Berfungsi sebagai Pengukur Keberhasilan
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Telah disinggung pada bagaian sebelum ini, keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, srana, dan sistem administrasi.

                        Adapun tujuan-tujuan lain, diantaranya:
1.      Menilai kebutuhan individual
2.      Menentukan kebutuhan pembelajaran
3.      Membantu dan mendorong siswa
4.      Menentukan strategi pembelajaran
5.      Akuntabilitas lembaga
6.      Meningkatkan kualitas pendidikan
7.      Mengetahui kemajuan dan kesulitan beajar siswa
8.      Memberikan umpan balik


E.     Kaitan Tujuan Pengajaran dengan Tujuan Penilaian
Berbicara mengenai pengajaran dan penilaian, tentu kita akan mendapatkan banyak kiatan-kaitan antara keduanya. Dimana keduanya sama-sama memiliki suatu tujuan yang dicapai, dan tujuan itu tentunya tidak semata-mata tanpa menyesuaikan dengan kondisi dan situasi kemampuan peserta didik.
Jika kita akan melaksanakan pengajaran kepada siswa, maka sebagai guru yang baik sebelumnya akan membuat tujuan-tujuan terlebih dahulu, membuat pula rencana pembelajan sebelum kemudian akan kita ajarkan. Mana mungkin, kita mengajar siswa kita tanpa tujuan yang jelas.
Kaitan lainnya, yaitu pengajaran tidak mungkin terlepas dari penilaian, dimana penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pemahan siswa terhadap materi yang kita telah ajarkan. Untuk melakukan suatu penilaian, sama halnya dengan pengajaran kita perlu menentukan terlebih dahulu tujuannya. Sehingga, antara pengajaran dengan penilaian berjalan dengan tujuan yang saling berkaitan.
Dalam tujuan pengajaran dan penilaian, secara garis besar sama-sama bertujuan untuk menjadikan siswa lebih baik dalam belajar, mengetahui lebih dalam lagi ilmu-ilmu yang telah diajarkan dan diharapkan dapat menjadikan suatu manfaat yang besar serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghadapai tantangan hidup yang semakin lama semakin meningkat.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Antara tujuan pengajaran dengan tujuan penilaian secara garis besar, sama-sama bertujuan untuk menjadikan siswa menjadi lebih baiak, mengetahui dan memahami lebih banyak ilmu-ilmu yang telah diajarkan dan dapat menjadikan suatu manfaat yang besar serta dapat diimplementasikan dikehidupan sehari-hari guna menghadapi tantangan hidup.

B.     Saran
Seorang guru yang baik, sebelum mengajar tentu harus menentukan tujuan pengajaran, dan ketika proses mengajar telah selesai, guru harus melakuakan penilaian yang juga harus ditentukan tujuannya.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-dasAR Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara













Tidak ada komentar:

Posting Komentar